Skip to main content

Pandemi Covid-19 telah membuat ekonomi Indonesia masuk ke jurang resesi. Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya konsumsi rumah tangga. Pemerintah terus berupaya untuk menyangga konsumsi rumah tangga dengan berbagai program jaring pengaman sosial. Pemerintah menganggarkan Rp242 triliun untuk program tersebut agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Tingginya anggaran pemulihan ekonomi nasional membuat pemerintah harus berpikir keras dalam mencari pembiayaan untuk memperkuat kapasitas Angggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kementerian Keuangan melakukan diversifikasi pembiayaan, di antaranya melalui Surat Berharga Negara (SBN) baik yang berbentuk konvensional maupun yang berbasis syariah atau Sukuk.

Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, penerbitan surat berhara negara berbasis syariah menjadi potensi besar sebagai sumber pembiayaan negara. Pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sejak 2008. Selama 12 tahun, realisasi penerbitan sukuk sudah mencapai Rp1.538 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman menyebut inovasi pembiayaan syariah yang baru-baru ini dilakukan adalah menerbitkan instrumen pembiayaan berupa wakaf uang yang bersifat temporer atau Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS). CWLS merupakan wakaf dalam bentuk investasi di sukuk negara yang nantinya akan dioptimalkan untuk membiayai proyek-proyek sosial.

“CWLS ini merupakan suatu skema yang disusun bersama oleh pemerintah bersama dengan otoritas untuk mendukung dan inovasi di bidang keuangan dan investasi sosial Islam di Indonesia. Kita juga mendesain CWLS ini sebagai instrumen untuk mendukung pengembangan wakaf produktif mulai pemanfaatan hasil investasi dana wakaf uang tersebut untuk pembentukan aset wakaf baru dan pembiayaan berbagai kegiatan sosial,” kata Luky dalam High Level Seminar on Waqf “Akselerasi Gerakan Wakaf Menuju Indonesia Maju” yang digelar Kamis, 8 Oktober 2020.

Luky menyampaikan bahwa dengan CWLS ini, masyarakat bisa beribadah sekaligus ikut berkontribusi dalam membangun negeri sehingga bisa meringankan beban APBN. Tahun ini, defisit APBN 6,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebelumnya, pemerintah telah meluncurkan instrumen CWLS pertama dengan seri SW001 dengan dana yang terhimpun sebesar Rp 50,8 miliar yang sebagian besar dari institusi. Luky menyebut pemerintah mengembangkan CWLS ini juga diperuntukkan bagi investor ritel. Untuk itu, pemerintah menggandeng perbankan syariah sebagai penghimpun dana CWLS. Pengembangan wakaf produktif ini diharapkan memberikan kontribusi sistem keamanan sosial yang berbasis komunitas juga berperan dalam penanganan Covid-19.

 

Penulis:
Lulu Nike Gunawan (Institut Pertanian Bogor)

Bergabung bersama Kami!
Registrasi sebagai Exhibitor Online!

Untuk mengajukan diri menjadi salah satu exhibitor online di ISEF 2023, silahkan Bapak/Ibu mengisi formulir singkat ini. Setelah mengisi formulir ini, tim ISEF akan menghubungi Bapak/Ibu melalui kontak yang Bapak/Ibu masukkan dalam formulir ini.