Skip to main content

Halal Lifestyle untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik
Ketika gaya hidup dan keberkahan berpadu jadi satu.

 

Dalam satu dekade terakhir, istilah halal lifestyle atau gaya hidup halal semakin populer di masyarakat. Gaya hidup ini merujuk pada salah satu bagian dari syariah Islam, yakni kewajiban bagi umat muslim untuk mengkonsumsi dan menggunakan segala sesuatu yang sudah terbukti halal.

Adapun pengertian halal sendiri adalah berbagai hal yang ‘diperbolehkan untuk dikonsumsi dan dilakukan secara ajaran Islam. Lantas halal lifestyle dapat diartikan sebagai cara individu untuk menjalani hidupnya sehari-hari dengan prinsip halal, mulai dari tingkah laku, kebiasaan, aktivitas hingga minat dan ketertarikan, yang semuanya harus sesuai dengan syariah Islam. 

Kepopuleran halal lifestyle antara lain dipicu oleh meningkatnya populasi kalangan kelas menengah muslim yang selalu up to date mengenai tren gaya hidup, namun secara bersamaan menginginkan produk dan layanan yang bisa merefleksikan spiritual sesuai ajaran Islam.

Dari komunitas muslim, lambat laun halal lifestyle turut menarik minat berbagai kalangan, karena memang bersifat universal dan sesuai dengan fitrah manusia yang selalu mengedepankan kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan. Penganut halal lifestyle akan semakin selektif dalam memilih produk yang mereka gunakan, karena harus memenuhi kriteria halal, bukan cuma sumbernya tapi dari mulai proses produksi hingga distribusi. 

Meningkatnya kepopuleran halal lifestyle ini juga dapat dilihat dari industri halal yang kian bertumbuh, tak terbatas pada industri food and beverages, melainkan juga merambah pada industri kosmetik, fashion, obat, pariwisata, hospitality, keuangan, dan bahkan elektronik. 

Negara-negara dengan penduduk mayoritas non-muslim pun banyak yang mengincar target pasar individu pelaku halal lifestyle. Misalnya Selandia Baru yang merupakan salah satu pengekspor daging halal terbesar di dunia, Thailand yang mengklaim sebagai Halal Kitchen of the World, bahkan Jepang menjadikan halal industry sebagai Key Economic Contributor by 2020. 

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan mayoritas muslim tentu saja halal lifestyle sudah banyak dipraktikkan, namun belum sempurna. Masih banyak dari masyarakat yang mengira bahwa selama makanan tersebut tidak ada unsur haram pada bahan bakunya, maka otomatis halal. Padahal tidak seperti itu.

Untuk memastikan sebuah benda atau produk halal harus dapat dipastikan semua tahapan produksi hingga distribusi terjamin kehalalannya. Di sinilah fungsi lembaga sertifikasi halal seperti Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) yang bertanggung jawab atas label ketetapan halal di Indonesia.

Halal Lifestyle di Tengah Pandemi COVID-19

Pada praktiknya halal lifestyle membawa manfaat besar bagi kualitas hidup manusia. Dengan mengonsumsi segala sesuatu yang baik, aman, dan sehat, tentunya membuat kondisi jasmani dan rohani kita pun semakin terjaga. Tubuh akan mendapatkan asupan nutrisi yang baik dan cukup, pikiran pun tentram karena tahu bahwa semua yang digunakan aman dan berkualitas. 

Di tengah Pandemi COVID-19, halal lifestyle menjadi semakin relevan sebagai gaya hidup yang harus dipraktikkan oleh seluruh manusia sesuai anjuran new normal. Menerapkan halal lifestyle yang sangat mengutamakan standar kelayakan, kebersihan, dan keamanan bagi manusia, akan menjaga kita dari paparan COVID-19. Apalagi jika disertai dengan perilaku disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, menggunakan masker, dan vaksinasi, jelas akan sangat bermanfaat untuk membuat kita dapat terus beraktivitas aman dan nyaman di tengah pandemi ini. 

Pengembangan Halal Lifestyle

Dalam salah satu wawancara khususnya dengan media Kompas (26/06), Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Indonesia memiliki target untuk mengembangkan industri halal agar bisa menjadi salah satu pilar perekonomian Indonesia. Untuk mencapai hal ini, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa Indonesia perlu fokus mengembangkan Halal Value Chain yang terdiri dari enam sektor industri potensial yakni makanan-minuman halal, pariwisata halal, fashion, media-rekreasi halal, farmasi-kosmetik halal, dan energi halal. 

Keenam industri inilah yang dapat membawa Indonesia ke puncak panggung ekonomi dan keuangan syariah global. Pengembangan keenam sektor industri potensial ini tentu akan sangat berpengaruh pada praktik halal lifestyle di Indonesia. Semakin berkembang industri halal maka akan semakin banyak produk halal yang bisa dinikmati oleh masyarakat, yang akhirnya berimbas pada kemajuan sektor ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. 

Tak cukup sampai di situ, pengembangan halal lifestyle juga perlu melibatkan masyarakat luas, dengan cara melakukan edukasi mengenai relevansi halal lifestyle yang tak hanya mengikat pada komunitas muslim tapi juga dapat dipraktikkan oleh masyarakat luas, mengingat ada begitu banyak manfaat dari gaya hidup halal ini. Selain itu bagi masyarakat yang sudah mempraktikkan halal lifestyle juga perlu terus mengikuti perkembangan informasi seputar produk-produk halal dan standarisasinya agar gaya hidup halal tak hanya sekadar jargon tapi benar-benar dapat membawa berkah bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Bergabung bersama Kami!
Registrasi sebagai Exhibitor Online!

Untuk mengajukan diri menjadi salah satu exhibitor online di ISEF 2023, silahkan Bapak/Ibu mengisi formulir singkat ini. Setelah mengisi formulir ini, tim ISEF akan menghubungi Bapak/Ibu melalui kontak yang Bapak/Ibu masukkan dalam formulir ini.